Linimasa, sejarah singkat WWW dalam sebuah imaji

Bila berbicara sejarah tentu tidak akan ada habisnya, lalu kita akan melihat masa depan, tetapi masa depan hanya akan sekadar (selalu) diprediksi, karena sebanyak apapun data tidak bisa memastikannya.


http://www.futureisnext.com

Tahun 1991 WWW sudah digunakan secara luas pada jaringan internet, melihat kembali ke belakang di tahun 1990 ‘World Wide Web’ sudah dapat dijalankan dalam lingkungan CERN, lalu mundur kembali di tahun 1989, Berners-lee sang penemu membuat pengajuan untuk proyek pembuatan hiperteks global. Menarik memang bila kita kita melihat sejarah menyelami apa saja tentang bagaimana peradaban, budaya, seni dan teknologi ditemukan dan terus berkembang.

Web sendiri telah banyak mempengaruhi peradaban manusia, dimana kita dapat saling bertukar ide, mengirim pesan, saling berkabar, dan belajar banyak pengetahuan pada jaringan internet. Tidak berlebihan memang bila kita harus (sedikit saja) mempelajari sejarahnya. Berikut adalah beberapa garis waktu singkat sejarah World Wide Web dari masa ke masa yang akan dikemas seperti cuitan atau status di media sosial, mari memasuki ruang imaji.

1992–1995: Dimana web semakin berkembang
“Hmm ada 500 Server , ada yang tahu apa itu web browser ?”

1996–1998: Komersialisasi Web
“Hmm mau bikin toko online sepertinya bagus ya bung ?”

1999–2001: “Dot-com” mendobrak
“Dot-com sudah seperti album musik pop yang meledak di pasaran”

2002–hingga hari ini:
“Bikin tugas tentang web 3.0 di cafe”

Gambaran masa depan:
“Sedang membiasakan anak agar jarang bermain dengan robot, sembari menyelesaikan target membaca 100 buku, dan membangun perpustakaan gratis untuk umum tahun ini. Senang sekali ternyata buku cetak tetaplah media yang dicari oleh semua orang untuk membaca”

Itulah garis waktu singkat, dialog imajiner manusia yang mempengaruhi perkembangan web. Hingga kemarin saya berkesempatan untuk menonton film dokumenter tentang web, dimana disana ada beberapa tokoh penting seperti kalian para pengantusias, desainer dan pengembang web. Brad Frost, Eric Meyer, Jeffrey Zeldman dan Tim Berners-Lee sendiri serta sejawat lainnya. Kalian bisa menontonnya di vimeo.

Salah satu adegan di Film “What Come Next Is The Future”

Semoga setelah menyaksikan film nya akan ada masukan dan kritik dari kawan-kawan di IMDB, dan semakin terinspirasi untuk saling berbagi, membangun komunitas agar WEB lebih baik lagi.

Bonus :

 

Catatan:

Sebelumnya tulisan saya ini pernah berusaha saya muat di salah satu portal online, tetapi karena beberapa hal tulisan ini gagal dimuat, akhirnya saya memutuskan untuk menulis kembali di medium dan sedikit melakukan perubahan pada tulisan ini. Tulisan telah diketik sejak desember 2016 lalu.

Sumber referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/World_Wide_Web
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_World_Wide_Web#1992.E2.80.931995:_Growth_of_the_Web
https://vimeo.com/bearded/future-is-next
http://www.futureisnext.com/

Buku cetak sekarat, panjang umur buku !

Karena buku cetak dan digital sama-sama dibutuhkan

Sekitar tahun 90’an generasi cindy cenora sangat diasyikkan dengan beberapa majalah anak-anak salah satunya yang paling terkenal adalah majalah Bobo, ruang tamu dan kamar pun dihiasi dengan koleksi majalah anak-anak, tak peduli ketika itu orang tua pusing dengan krisis moneter, lalu saat remaja mungkin kalian akan berkenalan dan jatuh hati dengan fantasi teen, hai, dan majalah remaja lainnya selain beberapa novel dan buku pelajaran yang akan kalian pinjamkan pada teman atau pacar.

Lalu, di sisi lain seorang introvert akan bergegas pulang ke rumah seusai sekolah yang baginya kadang memuakkan tanpa memedulikan orang-orang yang sudah menganggapnya sebagai kawan, lawan atau mengaguminya. Ia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, seolah membayangkan di jalanan ada gambaran hal-hal luar biasa yang akan dilakukannya di rumah, sesampainya di rumah, majalah konsol permainan video, cepat ia ambil diatas tumpukkan buku bacaan fiksi koleksinya yang tidak boleh terlipat sedikit pun.

Teknologi berkembang sangat cepat, hingga tahun 2004 menurut saya adalah awal internet menjadi sangat populer, dan mulai menyebar ke desa-desa disertai bangkitnya media sosial. Hari ini, orang-orang dengan bebas dan mudah bisa mengakses berita, mencari referensi untuk tugas kuliah, info lowongan kerja, dan membaca buku/majalah secara daring berkat pengolahan data dan komputasi awan. Melihat hal itu, banyak pakar dan yang bukan pakar teknologi diikuti pengantusias buku meramalkan kiamat buku cetak.

Di Indonesia sendiri ramalan kiamat buku semakin menguat ketika rolling stone telah lama menyediakan majalah digital, terbitan novel terbaru bisa diunduh di play store, aplikasi native maupun web berlomba-lomba untuk menyediakan jasa membaca artikel dan berita pilihan guna memenuhi kebutuhan para pembaca.

Namun, kenyataannya toko buku fisik tetap ramai dikunjungi, orang-orang tetap betah untuk berlama-lama membaca di perpustakaan, Jonru dengan bangga menerbitkan buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”, dengan cover ilustrasi dirinya mengenakkan kostum super hero disertai logo huruf p (penulis) hebat mungkin ?, padu padan dengan pena raksasa di tangan kanan, dan kertas di tangan kiri. Pesan yang saya dapat adalah “Hei inilah aku, penulis hebat. Setiap kata-kata ku adalah final !”, haha.

Lalu, mengapa buku cetak tetap banyak dijadikan media untuk membaca dan buku digital adalah ide yang sangat bagus ?. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri ada beberapa hal yang membuat buku cetak tetap diandalkan, di antara lain adalah :

  • Ketika akan membeli buku kita dimudahkan dengan membaca ringkasan isi dan beberapa konten yang akan dihadirkan untuk dibaca, dan itu langsung berada di tangan, dimana pada buku digital saat di situs online ditampilkan dengan tampilan terbatas dan dibutuhkan navigasi tertentu untuk melihat ringkasan isi dan konten.
  • Membaca buku cetak sangat santai, bebas dari radiasi cahaya, dan buku cetak sendiri tidak membutuhkan energi agar memungkinkan kita untuk membaca. Buku digital sangat ringan dan tidak menyusahkan ketika ternyata ketika dicetak dalam buku cetak akan sangat tebal.
  • Walaupun memakan banyak tempat dan kadang menyusahkan saat pindahan, buku-buku koleksi mengajarkan saya bagaimana caranya mengatur letak buku-buku agar estetik dan sesuai dengan besar ruangan, menyortir sesuai kebutuhan dan kategori. Dalam hal ini buku digital tidak pernah merepotkan.
  • Meskipun pada buku digital ada fitur untuk mencari kata tertentu, tetapi pada buku cetak kita disuguhi pengalaman membaca yang lebih bebas untuk membolak-balik halaman buku.
  • Terakhir, bagi saya adalah rasa puas untuk memiliki. Saya sudah merasa memiliki buku kalau memang rilisan buku tersebut hanya dalam bentuk digital, tetapi saya belum merasa sepenuhnya memiliki buku kalau buku tersebut dirilis dalam bentuk digital dan cetakan, sedangkan saya hanya mengunduh buku digital, pada sisi lain saya diuntungkan karena tidak perlu ke toko fisik untuk membelinya atau menunggu sangat lama untuk mendapatkannya.

Oleh karena itu bagi saya membandingkan buku digital dan buku cetak, atau mana yang lebih unggul, adalah hal yang kurang tepat. Apalagi ide mengubah semua buku ke dalam bentuk digital, karena tidak bisa dipungkiri kita membutuhkan kedua-duanya dalam keadaan, dan situasi tertentu.

Hal tersebut bagi saya bukan hanya sebatas nostalgia semata, walaupun mungkin nostalgia bagi sebagian orang sangat mempengaruhi dalam pilihan tersebut. Tetapi jangan salah, saya termasuk orang yang tidak begitu suka, bahkan kadang benci dengan nostalgia. Terdengar ambisius dan berlebihan ?, saya tidak peduli, semoga saya tidak sendiri.

Buku adalah teks yang dicetak dan yang terpampang pada layar, atau bisa juga terbagi pada media lainnya. Panjang umur membaca ! Panjang umur buku !