Menghormati Keputusan si Fulan

Butuh pengikut untuk setuju atau sekadar bingung terbawa arus

Akan sangat mudah bagi kita untuk menghormati pendapat dan keputusan kawan yang memang sudah biasa berbeda dari kita, lebih lagi jika tingkat pengetahuan dan kesabarannya telah lama kita ukur. Namun, hal itu sudah tidak biasa lagi ketika sudah menghakimi cara berkeyakinan, pakaian seperti apa yang layak pakai, dan guru mana yang patut diikuti agar menjadi suatu kewajban untuk dipatuhi, bila tidak bersiaplah dengan label munafik, kafir, dan sesat.

Bahkan seorang guru besar dan ulama yang berilmu tak luput dari caci maki “haram zadah !”, tanpa berpikir panjang sebut saja namanya si Fulan bahkan mengatakan si ulama tadi telah memakan daging haram, tentu masih ada (saja) orang-orang yang menyukai caci maki si fulan ini, setiap kata-kata yang keluar dari mulut si fulan adalah final, setiap pendapatnya seolah menjadi hukum yang wajib dipatuhi, semua harus setuju. Bila ingin menyanggah harus ada sedikit pujian untuk pendapatnya, walaupun dalam kenyataan pendapatnya itu tidak berdasarkan fakta, sekadar asumsi bahkan isu yang tidak jelas.

Media sosial hari ini adalah tempat yang ramai untuk bersuara, bahkan saking ramainya orang-orang sampai lupa pada beranda rumahnya sendiri yang telah lama lengang. Disinilah salah satu tempat untuk si Fulan bersuara, menyuarakan apa saja yang menurutnya kebenaran, mulai berita yang bersumber dari media abal-abal yang konon katanya anti mainstream, koran sobek, dan foto-foto daring dari segala sumber tanpa memeriksa keaslian data foto tersebut. Ketika menyinggung isu ras dan agama, jangan tanya apakah si Fulan malu atau tidak saat mengklaim dirinya sebagai manusia yang menjunjung tinggi perbedaan, karena perbedaan baginya adalah apa saja yang tidak berseberangan pendapat dengannya, lalu mengikuti aturan yang kapan saja bisa dibuat oleh mayoritas suara tanpa mempedulikan sisi pendidikan dan kemanusiaan.

Hal ini semakin menguat ketika suasana politik dan perebutan kekuasaan semakin memanas, tentunya para politikus sangat diuntungkan oleh kehadiran si Fulan sebagai kekuatan massa dalam menjatuhkan lawannya. Si Fulan mendadak jadi pejuang, dan semoga saja si Fulan benar-benar tidak tahu kalau dirinya dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Sebagai manusia yang malas ribut tentang hal yang itu-itu saja, saya terpaksa menghormati keputusan beberapa kawan yang mengikuti si Fulan, hingga pada akhirnya kawan-kawan tadi menyindir bahkan menyimpulkan saya sebagai yang sesat. Tapi, selang beberapa lama sebagian kawan tampaknya mulai muak, sadar dan mungkin malu untuk mengikuti langkah si Fulan yang makin berada dalam kebingungan.

Saya tidak merasa paling benar, hanya saja menolak untuk mengikuti si Fulan, dan tunduk pada aturannya. Apapun itu, silahkan berpendapat bahwa cara-cara yang dilakukan si Fulan itu benar, dan semoga saja saya tidak masuk ke dalam barisan penghakim yang berusaha untuk mencabut gelar, dan memberi gelar buruk orang-orang yang tidak sepaham. Demikian, bila terdapat banyak kesalahan dalam tulisan ini, dan terasa sangat membosankan atau menyebalkan, harap maklum karena saya adalah pemula yang payah.